JPPI: Gaji Guru Honorer Lebih Rendah dari Sopir MBG

JPPI: Gaji Guru Honorer Lebih Rendah dari Sopir MBG

Gaji Guru Honorer Lebih Rendah dari Sopir MBG – Jakarta, 2 Januari 2026 – Jaringan Pegawai dan Profesional Indonesia (JPPI) menyoroti ketimpangan gaji guru honorer di Indonesia. Berdasarkan data yang dikumpulkan, banyak guru honorer menerima upah jauh lebih rendah dibandingkan profesi sopir pribadi perusahaan besar, termasuk sopir mobil MBG. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat.

Ketimpangan Gaji yang Mengkhawatirkan

JPPI menyebutkan, rata-rata guru honorer di sejumlah daerah menerima gaji bulanan hanya sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta. Sementara itu, sopir mobil MBG bisa mendapatkan gaji mulai dari Rp4 juta hingga Rp6 juta per bulan, ditambah tunjangan dan fasilitas lain. Perbedaan ini menimbulkan pertanyaan mengenai prioritas anggaran dan penghargaan terhadap profesi pendidikan.

Menurut ketua JPPI, “Guru honorer merupakan tulang punggung pendidikan di Indonesia. Mereka mendidik generasi muda dengan dedikasi tinggi, tetapi gaji yang diterima tidak mencerminkan tanggung jawab dan peran strategis mereka.” Pernyataan ini menekankan adanya ketidakadilan yang harus segera diperbaiki.

Baca Juga: Pemerintah Tingkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia

Dampak Langsung pada Pendidikan

Ketimpangan gaji tidak hanya soal angka. JPPI menekankan bahwa kondisi ini berdampak pada kualitas pendidikan. Banyak guru honorer terpaksa mengambil pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Situasi ini menyebabkan fokus mereka terbagi, sehingga kualitas pembelajaran di sekolah bisa menurun.

Selain itu, rendahnya gaji menyebabkan tingginya turnover guru honorer. Sekolah kesulitan mempertahankan tenaga pengajar berpengalaman. Hal ini secara langsung memengaruhi keberlanjutan program pendidikan, terutama di daerah terpencil.

Pemerintah Didorong Bertindak

JPPI meminta pemerintah pusat dan daerah mengambil langkah nyata. Langkah ini termasuk meningkatkan gaji guru honorer, memberikan tunjangan yang layak, serta memperluas akses mereka terhadap fasilitas pendidikan dan kesehatan.

Salah satu solusi yang di sarankan JPPI adalah penyetaraan gaji guru honorer dengan upah minimum regional (UMR). Dengan langkah ini, guru honorer tidak lagi merasa di abaikan dan profesionalisme mereka dapat meningkat. Selain itu, JPPI menekankan pentingnya transparansi anggaran pendidikan agar masyarakat mengetahui alokasi dana dan prioritas pemerintah.

Respon Masyarakat dan Guru Honorer

Berita mengenai ketimpangan gaji guru honorer memicu reaksi luas di media sosial. Banyak orang tua murid dan aktivis pendidikan menyuarakan dukungan terhadap peningkatan kesejahteraan guru. Guru honorer sendiri menyatakan harapan besar agar pemerintah segera mengambil langkah konkret.

Seorang guru honorer di Jawa Tengah mengungkapkan, “Kami mengajar dengan sepenuh hati, tetapi sulit memenuhi kebutuhan hidup. Jika gaji setara dengan profesi lain, kami bisa lebih fokus mendidik anak-anak bangsa.” Pernyataan ini mencerminkan aspirasi seluruh guru honorer di Indonesia.

Kesimpulan

JPPI menekankan bahwa penghargaan terhadap guru honorer bukan sekadar soal materi, tetapi juga soal pengakuan atas kontribusi mereka dalam mencetak generasi penerus bangsa. Ketimpangan gaji antara guru honorer dan sopir mobil MBG menandai perlunya reformasi sistem pengupahan di sektor pendidikan.

Pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait perlu bersinergi untuk memastikan guru honorer mendapatkan hak yang layak. Dengan langkah tepat, kualitas pendidikan Indonesia akan meningkat, dan para guru honorer bisa bekerja dengan motivasi penuh tanpa terbebani kekhawatiran finansial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *